Kemarin ada teman pinjamin buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata, Edensor. Membaca halaman demi halaman dari buku ini membuat aku semakin penasaran akan kisah petualangan Ikal dan Arai (2 tokoh utama) selama menempuh pendidikan di Eropa. Penggunaan kata-kata yang ringan dan terasa “sastra” banget adalah kelebihan dan kekuatan tersendiri dari buku ini (juga buku pertama dan kedua) mengingat pengarang sendiri bukan orang yang besar di sastra. Justru disitulah letak kekuatan seorang Andrea Hirata dalam membuat buku sastra yang “saintis”.
“Aku sadar diri, dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apapun, tak secuilpun aku memenuhi kualifikasi”. (hal.113)
Ini salah satu pemilihan kata-kata yang kusuka dari buku ini, tentu saja masih banyak yang lain. Subjektif memang, karena tergantung selera kita masing-masing dalam memaknai dan meng-interpretasikan isi dari sebuah bacaan. Yang jelas, membaca buku ini juga bisa membuat wawasan kita bertambah tentang dunia benua biru sana, paling tidak semangat revolusi Perancis: liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, persaudaraan) juga sempat ‘nongol’ di halaman 102. Buat yang Pecinta Ekonomi (Andrea basic-nya ekonomi) malah ada perdebatan Ikal dengan sang ahli ekonomi, Adam Smith atau minimal belajar “turning a friend into a lover” or sebaliknya “turning a lover into a friend” tentu saja ala Ikal.
Oiya, Edensor juga punya pesan moral di dalamnya. Simak aja di bawah ini :
Pelajaran moral nomor Sebelas: “Untuk mendapatkan wanita Cantik tapi bodoh, Anda hanya perlu menjadi seorang provokator”
Pelajaran moral nomor Duabelas: “Kemanapun tempat telah ku tempuh, apapun yang telah ku capai, dan dengan siapapun aku berhubungan, aku tetaplah seorang lelaki udik, tak dapat kubasuh-basuh.”
Pelajaran moral nomor Tigabelas: “Jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik. Pesimis!”
Pelajaran moral nomor Tigabelas: “Tukang jam, tukang reparasi televisi, tukang dadu cangkir, dan penerbit buku adalah profesi-profesi yang patut dicurigai, dimanapun mereka berada”.
Pelajaran moral nomor Empatbelas: “Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu. Jangan bersedih karena engkau hanya akan bersedih sendirian”. (filosofi kebahagiaan)
Pelajaran moral nomor 1-10? kalau mau tahu lebih bagus kalau baca langsung bukunya, hehehe… (gak berpromosi nih lagian juga gak dapat komisi koq
eh, sadar ‘gak kalau ada dua pesan moral berlabel nomor 13? betul, di bukunya mang gitu, yang pertama di halaman 135 dan yang terakhir di halaman 216. Mungkin ini hanya kesalahan editing aja kali ya? atau kemungkinan juga suatu hal yang disengaja sebagai Paradoks yang ke-empat? (gimana Bang Andrea?)
Yang jelas, membaca buku ini seperti mengingatkan saya pada sebuah film bertitel “Euro Trip”. yang berbeda mungkin dari motivasi-nya, di film ini Scott dkk keliling Eropa ’secara tidak sadar’ untuk mencari seorang gadis yang dikenalnya lewat chating. Petualangan mereka berakhir di Vatikan sementara di Edensor, Ikal dan Arai ’sempat’ ke Rusia dan Afrika sebelum kembali ke Spanyol (Eropa). So, kayaknya akan seru kalau buku ini difilmkan deh…
hm……….makin pinter nulis aja kk satu ini.
ajarin ka buat web juga…..:((
satu pesan moril dr saya :
PINJAM KA BUKU YANG DIBAHAS DI ATAS!!!!!!!!!
“tetralogi Laskar Pelangi”
Oleh: Dd_ndeng^-^ on Senin, 17 Maret 2008
at 9:34