Oleh: Hamka | Selasa, 18 Maret 2008

My Village…

sta60019.jpg

Passeno, adalah sebuah desa di wilayah Kelurahan Duampanua Kecamatan Baranti Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Menurut cerita tempoe doeloe Passeno ini dulunya adalah sebuah kerajaan kecil yang berafiliasi dengan Kerajaan Bone. Saat ini Passeno sendiri terbagi menjai 2 lingkungan dimana Lingkungan Passeno II masuk wilayah Kelurahan Duampanua sedangkan Passeno I di Kelurahan Baranti.

Kecamatan Baranti berbatasan dengan Kulo di Utara, Panca Rijang di Timur, Watang Pulu di Selatan dan Kabupaten Pinrang di sebelah Barat. Kelurahan Baranti merupakan Ibu Kota Kecamatan. Baranti adalah penghasil beras, telur ayam dan telur itik terbesar di Kabupaten Sidenreng Rappang, sehingga kecamatan ini juga merupakan kecamatan penghasil beras dan telur terbesar di Indonesia Bagian Timur sebagaimana Kabupaten Sidenreng Rappang yang merupakan kabupaten penghasil beras dan telur terbesar di Indonesia Bagian Timur.

Selain penghasil beras dan telur, kecamatan ini juga merupakan penghasil buah-buahan dari lahan kebun yang juga cukup luas dan digarap intensif oleh masyarakat. Hampir tidak ditemukan lagi masyarakat miskin di wilayah ini karena ketekunan kegotong-royongan penduduknya. Seperti di seluruh wilayah nusantara yang dihuni mayoritas suku bugis, di kecamatan ini juga masyarakat ta’at beribadah dan menegakkan dengan teguh tradisi saling menghargai dan saling menolong, dimana-mana dengan mudah ditemukan bangunan masjid besar yang permanen dan dipadati jama’ah.

Adalah sangat sulit menemukan minuman beralkohol dijual di toko-toko dan restauran/rumah makan, apalagi makanan/minuman lainnya yang diharamkan agama seperti daging babi, bahkan babi menjadi musuh masyarakat karena sifatnya yang suka merusak tanaman, sehingga disebut “hama babi” sebagaimana di daerah lain yang mayoritas berpenduduk muslim.

Penduduk daerah ini tekun dalam menjalani mata pencaharian dan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahan-bahan kebutuhan pangan pada umumnya dihasilkan sendiri seperti beras, sayur-mayur, minyak goreng, telur, ternak ayam dan sapi serta ikan dimana hampir setiap kepala keluarga di kecamatan ini memiliki jala ataupun bubu untuk menangkap ikan. Sebagaimana suku bugis lainnya, masyarakat wilayah ini juga terbiasa hidup hemat tapi tidak kikir. Mereka menjalani hidupnya secara teratur, sehingga tanpa kesulitan hampir setiap keluarga memiliki rumah, kendaraan dan lahan pertanian sendiri. Keadaan seperti ini menjadi ciri khas suku Bugis dimana pun berada, halmana membuat hubungan dengan pihak pemerintah dan pihak keamanan berlangsung damai.

[disadur dari wikipedia Indonesia dengan editing seperlunya]


Tanggapan

  1. aga kareba,,??

  2. Tolong cerita dan sejarah – sejarah tentang baranti di tambah lagi… namo iya to baranti meto tapi makurang wisseng tentang baranti kasian


Beri tanggapan

Your response:

Kategori